Muslim Itu Seperti Lebah
Muslim telah menginduksi berbagai respon dikalangan kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia mulai yang ekstrim sampai yang paling menggampangkan. Diantaranya ada yang melakukan aksi demonstrasi sampai pada pembakaran dan terbunuhnya duta Besar AS untuk Libya. Juga diantaranya ada yang mengatakan kita tidak seharusnya marah akan hal ini. Ini hanyalah masalah sepele dan Nabi sendiri pun tak marah ketika dirinya dihujat.
Awalnya saya tak mau menulis tentang ini.
Tetapi apa yang ada dikepala saya sangat mengganggu dan butuh untuk
ditumpahkan dalam sebuah tulisan. Walaupun saya takut sekali akibat dari
tulisan saya ini karena dengan minimnya pengetahuan agama saya, serasa
tak pantas saya berpedapat. Tetapi, saya sedih melihat adanya saling
cela yang terjadi diantara kaum muslimin mengenai sikap yang harusnya
diambil terkait hal ini. Jadi izinkanlah saya menuliskan pendapat saya
yang pastinya belum tentu kebenarannya. Sehingga siapapun yang membaca
kumohon klarifikasi segala hal yang ada ditulisan saya ini dan jika bisa
tolong koreksi saya.
Sikap yang pertama adalah beberapa orang
mengatakan dalam menghadapi isu ini kita seharusnya bersabar saja dan
tidak usah marah karena Nabipun tidak pernah marah ketika dia dihina,
disakiti dan direndahkan. Mereka menggunakan hujjah kisah Nabiullah
Muhammad SAW. Diantaranya dua kisah yang saya temukan dijadikan dasar
adalah, pertama :
Kisah mengenai pengemis Yahudi buta yang sering mencaci maki Rasulullah di sudut pasar Madinah. Namun,
setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan
makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan
yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak
mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad SAW,
orang yang selalu ia caci. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari
sampai Beliau wafat.
Terlihat disini bahwa Rasulullah SAW tidak marah bahkan memberi belas kasihan dan merawat pengemis Yahudi yang terus mencacinya.
Kedua, kisah Rasulullah SAW ketika berada di Thaif.
Saat itu, kaum Tsaqif melempari Rasulullah SAW, sehingga kakinya
terluka. Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah
membelanya dan melindunginya, tapi kepalanya juga terluka akibat terkena
lemparan batu. Akhirnya, Rasulullah berlindung di kebun milik ‘Utbah
bin Rabi’ah.Diriwayatkan oleh Ulama Hadist terkenal, Imam Bukhori dan Muslim dari Asiyah RA (istri kedua Rasulullah SAW).
Saat itu, tiba-tiba muncul Malaikat Jibril memanggil seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,“ Rasulullah SAW berkata :
“Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “ Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah SAW, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“
Terlihat juga disini bahwa seandainya Nabi Muhammad SAW marah maka niscaya penduduk Thaif saat itu telah tertimpa sebuah gunung.
Kedua kisah ini dijadikan dasar bagi beberapa
saudara kita yang mengatakan bahwa Nabi saja disiksa, direndahkan dan
dihina tidak marah, tidak membalas perbuatan mereka dan malah sebaliknya
Nabi mendoakannya. Lalu mereka berkata, bukankah sebaik-baik suri
teladan adalan Nabi Muhammad SAW.
“Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul
teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di
hari kemudian.” (QS Al-Ahzab [33]: 2l)
Menurut pendapat saya pribadi, kedua kisah
ini tidak bisa dijadikan dasar untuk kita mengatakan bahwa Nabi tidak
usah dibela, kita tidak usahlah marah, santai saja, kita shalawat dan
mendoakan mereka yang menghina Nabi, toh Nabi sendiri tidak marah, dan
lain sebagainya. Mengapa ?
Pertama,
jawaban saya, kisah diatas merupakan landasan atau dasar yang
mengajarkan kita kesabaran bukan ketika Nabi dihina, tetapi ketika KITA
yang dihina. Bukan ketika Nabi dilecehkan dan direndahkan tetapi ketika
KITA yang dilecehkan dan direndahkan. Ketika kita berada pada kesulitan
yang dialami seperti Nabi pada kisah diatas maka hendaknya kita
mengucapkan kalimat-kalimat kita harus bersabar atas segala cobaan,
tidak boleh marah dan mendoakan orang yang menghina kita. Pertanyaanya
sanggupkah kita seperti Nabi?. Jangan-jangan kita sanggupnya hanya
ketika Nabi kita yang dihina, karena ternyata cinta kita hanya sebatas
dimulut saja. Tetapi ketika yang direndahkan, dihina dan
dijelek-jelekkan kehormatan dan harga dirinya adalah KITA, istri/suami
KITA, anak KITA, ibu/ayah KITA, kita malah menjadi kalap dan lupa
mengenai pelajaran sabar diatas. Jika memang kita sanggup bersabar atas
hinaan itu semua, maka saya sepertinya membutuhkan guru seperti anda.
Jika tidak, maka cinta Nabi yang sesungguhnya akan melahirkan kemarahan
yang lebih besar dibandingkan kemarahan karena menyangkut diri KITA.
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6)
“Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah
tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada
Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [QS. At Taubah: 24]
‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah
bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan
Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai
Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali
terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam
berkata,
”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, imanmu belum sempurna.
Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian
’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku
cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa
sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, imanmu telah sempurna.”
“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari
kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya dan
segenap manusia.” (muttafaq ‘alaih)
Kedua, alasan saya, ketika
dihina Nabi pastinya tidak akan marah, mengapa ? Kan beliau Nabi, yang
memiliki akhlak dan sifat mulia. Jika beliau Nabiullah Muhammad SAW
marah ketika dihina dan direndahkan maka apa bedanya dengan manusia
biasa. Maka pastilah anda takkan mendapatkan satu kisah pun Nabi akan
marah karena direndahkan. Sekali lagi beliau menyontohkan akhlak yang
sempurna untuk kita agar ketika kita dihina dan direndahkan seharusnya
kita bersabar dan mendoakan si penghina.
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu
sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa
sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu
marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda :
Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori )
Menurut saya kisah yang lebih tepat terhadap
penghinaan terhadap Nabi kita bisa dapatkan pada kisah Muadz dan
Muawwidz, remaja yang membuat Abu Jahal, sang penghina Nabi, sekarat
dalam perang Badar. Kisahnya sebagai berikut :
Kedua pemuda yang masih belia ini mempunyai kisah hidup yang tidak
pernah terpikir atau terbesit di dalam benak siapapun. Pertama adalah
Muadz bin Amr bin Jamuh, usianya baru 14 tahun. Sementara yang kedua
adalah Muawwidz bin Afra’, usianya baru 13 tahun. Akan tetapi, dengan
penuh antusias keduanya bergegas ikut serta bergabung bersama pasukan
kaum muslimin yang akan berangkat menuju lembah Badar.Mengapa mereka ikut dalam perang Badar ? apa yang mendorong mereka mempertaruhkan nyawa dalam usia belia ?
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan dengan penuh takjub:
“Tiba-tiba salah seorang dari kedua pemuda ini berbisik kepada saya, ‘Wahai Paman, manakah yang bernama Abu Jahal?” Pemuda yang mengatakan hal ini adalah Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu Ia berasal dari kalangan Anshar dan dirinya belum pernah melihat Abu Jahal sebelumnya. Pertanyaan mengenai komandan pasukan kaum musyrikin, sang lalim penuh durjana di Kota Mekkah dan “Fir’aun umat ini”, menarik perhatian Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu. Lantas ia pun bertanya kepada anak muda belia tadi, “Wahai anak saudaraku, apa yang hendak kamu lakukan terhadapnya?”
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu tewas (gugur).”
Ya Allah, betapa kokoh dan kuatnya sikap anak muda belia ini! Seorang anak muda belia yang tinggal di Madinah Al-Munawwarah. Ketika ia mendengar bahwa ada orang yang mencaci maki baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekkah yang jaraknya hampir 500 km dari tempat tinggalnya, bara api kemarahan berkobar di dalam hatinya dan semangat ingin membela baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membara di dalam jiwanya.
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Seorang pemuda belia yang lain (Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu) menghentak saya dan mengatakan hal yang serupa.” Lalu Abdrurahman melanjutkan kisahnya, “Tiba-tiba saja saya melihat Abu Jahal berjalan di tengah-tengah kerumunan orang ramai.Saya berkata, “Tidakkah kalian melihat orang itu ia adalah orang yang baru saja kalian tanyakan kepadaku!”
Sekarang, mari kita simak bersama penuturan Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu ketika ia menggambarkan situasi yang sangat menakjubkan tersebut, seperti yang terdapat dalam riwayat Ibnu Ishaq dan di dalam kitab Ath-Thabaqat karya Ibnu Sa’ad.
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saya mendengar kaum musyrikin mengatakan, ‘tidak seorang pun dari pasukan kaum muslimin yang dapat menyentuh Al-Hakam (Abu Jahal)’.” Saat itu , Abu Jahal berada di tengah-tengah kawalan ketat laksana pohon yang rindang.
Di samping itu, kaum musyrikin juga saling menyerukan, “Waspadalah, jangan sampai pemimpin dan komandan kita (Abu Jahal) terbunuh!”Mereka mengatakan, “Tidak seorang pun musuh yang dapat menyentuh Abul-Hakam (Abu Jahal)!”
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Ketika saya mendengarkan perkataan itu, saya pun semakin membulatkan tekad. Saya memfokuskan diri untuk mendekatinya. Ketika tiba waktunya, saya langsung menghampirinya dan memukulkan pedang kepadanya hingga setengah kakinya (betis) terputus.”
Subhanallah! Hanya satu sabetan pedang dari tangan anak muda belia ini, betis seorang lelaki (Abu Jahal) putus dalam sekejap.
Tanyakanlah kepada para dokter atau tim medis yang pernah melakukan operasi pemotongan, betapa sulitnya melakukan hal tersebut! Coba pula tanyakan kepada para pahlawan dan ahli perang yang bergelut di medan pertempuran yang dahsyat, betapa sangat sulitnya hal itu dilakukan!
Ia benar-benar telah merealisasikan mimpinya selama ini. Hati sanubarinya terasa damai, dan ia telah berhasil membalas dendam kesumatnya demi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, apakah semua itu dilakukan begitu saja tanpa pengorbanan?!
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Pada perang itu (Badar), anaknya (Abu Jahal), Ikrimah -pada waktu itu ia masih musyrik – menebas lengan saya dengan pedangnya hingga hampir terputus dan hanya bergantung pada kulitnya saja.”
Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan kisahnya,
“Pada hari itu, saya benar-benar berperang seharian penuh. Tangan saya yang hampir putus itu hanya bergelantungan di belakang. Dan ketika ia menyulitkan saya, saya pun menginjaknya dengan kaki, lalu saya menariknya hingga tangan saya terputus.”
Ia justru memisahkan tangan dari jasadnya agar bisa mengobarkan jihad dengan bebas dan leluasa! Subhanallah! Lantas, di mana teman pesaingnya untuk membunuh si durjana dan si lalim kelas kakap itu? Di mana Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu?
Lalu Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu melintas di hadapan Abu Jahal yang sedang terluka parah, kemudian ia pun menebasnya dengan pedang. Kemudian membiarkannya dalam keadaan tersengal-sengal dengan nafas terakhirnya.
Mari kita simak bersama penuturan Muadz bin Amr bin Jamuh ra. tentang teman pesaingnya ini :
“Lalu Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu melintas di hadapan Abu Jahal yang sedang terluka parah, kemudian ia pun menebasnya dengan pedang. Kemudian membiarkannya dalam keadaan tersengal-sengal dengan nafas terakhirnya.”
Ia berhasil memukul Abu Jahal hingga membuatnya terjungkal ke tanah seperti orang yang tak berdaya, tetapi ia masih mempunyai sisa-sisa nafas terakhir. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu datang untuk menghabisi nyawa Abu Jahal.
Lantas keduanya datang menjumpai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Masing-masing mengatakan, “Saya telah membunuh Abu Jahal, wahai Rasulullah!”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka berdua sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Apakah kalian telah menghapus (bercak darah yang menempel pada) pedang kalian?“ mereka berdua menjawab, “Belum.” Maka beliau melihat kedua pedang pahlawan cilik tersebut.Lantas beliau bersabda, “Kalian berdua telah membunuhnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menyimpulkan bahwa kedua pahlawan- belia itu memperoleh nilai yang sama dan seri.
Kita telah menyaksikan bahwa Muadz bin Amr bin Jamuh Radhiyallahu ‘anhu harus rela kehilangan tangannya sebagai harga mati dari perjuangan, kejujuran, dan kebulatan tekadnya. Lantas apa yang telah dipersembahkan oleh Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhu? Muawwidz Radhiyallahu ‘anhu telah mempersembahkan seluruh jiwanya. Sehingga ia memperoleh mati syahid di jalan Allah!
Kisah ini menurut saya lebih cocok dijadikan
sebagai hujjah bagaimana seharusnya sikap kita terhadap penghina Nabi.
Apakah teman-teman melihat dalam kisah diatas, Nabi Muhammad marah
karena kedua remaja itu membunuh Abu Jahal yang menghinanya. Tidak sama
sekali. Seandainya Rasullullah memang tak menginginkan kita untuk marah
terhadap para pencelanya, pastilah Nabi Muhammad telah menghardik kedua
remaja tersebut.
Lalu bagaimana seharusnya sikap kita terhadap penghinaan yang ditujukan kepada Nabiullah Muhammad SAW ?
Kita juga tidak seharusnya serta merta
melakukan berbagai pengrusakan, pembakaran bahkan pembunuhan karena ini.
Karena mata dunia tengah tersorot ke segala aktivitas Islam.
Ditengah kondisi dunia saat ini, dimana
media-media dunia dikuasai oleh orang-orang yang tidak senang dengan
Islam tentulah kita harus berhati-hati dengan segala bentuk provokasi,
karena tiap pergerakan yang kita lakukan bisa dipelintir sedemikian rupa
sehingga memperburuk citra Islam.
Belum lagi seperti yang ada di Indonesia, kita malah diperhadap-hadapkan dengan sesama Muslim, saling lempar, saling menciderai.
Musuh-musuh Islam saat ini hendak
menghancurkan Islam dengan cara membuat kita saling menghancurkan satu
sama lain, karena mereka tahu jika umat Islam bersatu maka tak mampu
mereka menghadapinya. Ini telah dibuktikan oleh sejarah.
Inilah yang harusnya dijadikan hujjah untuk menahan diri untuk tidak emosi dan bertindak kebablasan.
Apakah yang berdemonstrasi salah ?
Saya memilih untuk tidak mengatakan salah.
Karena ada beberapa ulama yang memerintahkan dan membolehkan
tindakan-tindakan ini. Bagi saya melihat semangat keislaman dari
berbagai demonstrasi di berbagai penjuru dunia membuat saya terharu.
Betapa kita sebenarnya memiliki kekuatan dan semangat keislaman yang
begitu besar. Tinggal menunggu waktu kekuatan ini untuk bersatu. Karena
janji kemenangan itu pasti adanya.
Apakah yang memilih tidak berdemonstrasi salah ?
Saya juga memilih untuk tidak mengatakan
salah. Karena ada beberapa ulama yang memerintahkan dan membolehkan
tindakan ini. Dengan alasan seperti diatas.
Lalu yang mana yang salah ?
Yang salah itu adalah jika kita tidak
memiliki rasa amarah karena tindakan pelecehan terhadap Nabi kita. Dan
hanya berkata santai saja mari shalawat. Bershalawat tidak diperintahkan
hanya ketika Nabi dihina, tetapi setiap mendengar nama Nabiullah
Muhammad SAW kita selayaknya bershalawat. Janganlah kita sampai sama
dengan para pemikir liberal yang mengaku Islam itu. Ketika ahmadiyah dan
syiah dilarang mereka protes dimana-mana. Ketika Irshad Mandji dilarang
berdiskusi mereka berkoar-koar kemana-mana mengenai cideranya freedom
of speech. Tetapi ketika Nabi dihina, mereka mengatakan sabar, tak usah
marah, toh Nabi juga tidak marah.
Yang salah juga adalah ketika kita sibuk
saling menyalahkan, mengejek (pandir,wahabi, dll) dan berdebat tidak
produktif. Menuduh orang yang berdemosntrasi tidak benar dan begitupun
sebaliknya. Tidak usahlah kita saling menyalahkan karena masing-masing
kita memiliki hujjah atas pilihan. Saya yakin diri kita tidaklah lebih
baik dari ulama-ulama yang telah memberikan fatwa. Tinggal kita memilih
mana yang lebih dekat dengan hati kita. Masalah seperti ini adalah
iktilafiyah yang harusnya dipahami dengan baik sebagai bentuk saling
menghargai atas pilihan-pilhan yang diambil.
Mari bersama-sama menunjukkan ketidaksenangan
kita atas penghinaan terhadap Rasulullah SAW sesuai dengan cara yang
kita pahami benar dan kita sanggupi. Minimal melalu media sosial yang
kita punyai. Setidaknya protes kita ini mampu menunjukkan kepada mereka
ketidaksukaan kita dan konsekuensi yang akan mereka hadapi jika terus
mengulanginya. Baru-baru ini media di Perancis kembali menerbitkan
karikatur Nabi, tetapi lihatlah akibat tindakan itu mereka menutup semua
kantor duta besar mereka, karena mereka telah tahu konsekuensi dari
perlakuan mereka.
Syaikh Husain Yee mengatakan Muslim itu
seperti Lebah .Menebar manfaat tanpa merusak. Tetapi jangan coba-coba
diganggu (agamanya), karena dia akan menyengat walaupun itu mengorbankan
nyawanya.
Marilah saling mendoakan agar dikuatkan
senantiasa mampu mencintai Rasulullah dengan menegakkan
sunnah-sunnahnya. Marilah menggunakan momentum ini dengan semakin giat
mempelajari kisah Rasulullah Muhammad SAW, makin sering membaca
hadits-haditsnya dan semaksimal mungkin mengamalkannya. Marilah kita
sebagai umat islam untuk senantiasa bersatu, tidak berpecah belah dan
saling menyalahkan.
Segala sesuatu yang benar berasal dari Allah SWT dan kesalahan itu berasal dari diri kami sendiri dan setan laknatullah ‘alaih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar